JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) merilis sebuah laporan proyeksi medis yang patut menjadi alarm bagi sistem kesehatan seluruh negara. Laporan tersebut memperkirakan akan terjadi lonjakan kasus kanker tahunan secara global hingga 66,7 persen. Artinya, dunia diprediksi akan menghadapi lebih dari 35 juta kasus kanker baru setiap tahunnya pada tahun 2050 mendatang.
Fenomena transisi demografis berupa penuaan populasi global dituding sebagai pemicu utama, di samping perubahan gaya hidup modern yang tidak sehat, seperti paparan polusi, obesitas, serta tingginya konsumsi alkohol dan tembakau. Lonjakan ini tidak hanya akan memberikan tekanan luar biasa pada infrastruktur medis, tetapi juga dikhawatirkan akan semakin memperlebar disparitas akses pengobatan onkologi antara negara maju dan negara berpenghasilan rendah-menengah.
WHO menekankan bahwa pencegahan harus menjadi pilar utama dalam menghadapi krisis ini. Negara-negara berkembang didesak untuk segera memperkuat sistem deteksi dini mereka dan mengintegrasikan layanan kanker komprehensif ke dalam jaminan kesehatan semesta. Tanpa intervensi kebijakan yang masif dari sekarang, beban ekonomi dan angka mortalitas akibat kanker diyakini akan melumpuhkan sistem kesehatan di banyak negara.